Kamis, 02 Juni 2022

MENYINGKAP TABIR BUKAN TABULA RASA

Banyak ajaran yang telah ditelurkan oleh seorang tokoh besar pendidikan Indonesia Ki Hadjar Dewantara. Ajaran beliau hari ini sangat dirindukan mengingat sesuai dengan perkembangan zaman masih sangat relevan untuk diimplementasikan menuju kesuksesan.

Setiap anak sebenarnya sudah dianugerahi potensi yang luar biasa sejak lahir. Sehingga dalam prosesnya orang-orang yang bersentuhan langsung dengannya, khususnya pendidik dalam dunia pendidikan memiliki tugas untuk menuntun dan mengarahkan agar potensi tersebut dapat terasah dengan baik.

Setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda-beda sesuai dengan potensinya. Seorang pendidik yang bijak sudah selayaknya memberikan perlakuan yang berbeda pula sehingga hasilnya pun juga sangat berpeluang untuk tidak sama sesuai dengan kemampuan dasar yang dimilikinya.

Tapi, sering kali kita dihadapkan pada pemikiran bahwa angka adalah segalanya, dan penyeragaman menjadi kunci dari semuanya. Kadang kita mencoba untuk berontak dari kenyataan, tapi lagi-lagi hal yang terkesan sama telah meruntuhkannya.

Rasa untuk tidak percaya pada diri sendiri kadang masih terus tumbuh subur. Terlebih jika kepercayaan diri itu bertentangan dengan kesamaan pemikiran dan kenyamanan. Sehingga kebenaran yang tertanam pada diri kita meredup kembali secara perlahan.

Namun, akhir-akhir ini muncul semburat sinar ajaran Ki Hadjar Dewantara yang mulai berhembus kembali. Salah satunya adalah konsep siswa bukanlah tabula rasa. Siswa bukanlah ibarat kertas kosong. Tapi siswa sama dengan kertas yang sudah memiliki garis-garis samar. Seorang pendidik memiliki tugas untuk menuntun dan menebalkan garis samar yang akan membawanya menuju sukses di masa depan.

Berbeda bukanlah berarti keliru. Berbeda untuk menuju kebenaran mutlak harus dilakukan. Butuh keberanian untuk bertindak, butuh keberanian untuk bergerak. Pemikiran tokoh besar pendidikan telah menuntun dan mengobarkan semangat kita untuk mencoba dan tidak hanya sekedar mencoba.

Ini adalah sebuah tantangan. Bagaimana keberanian kita tumbuh untuk mendobrak dan membuka tabir bahwa setiap anak memiliki potensi berbeda yang siap untuk diasah.

Saatnya kita benar-benar berada di antara mereka. Belajar bersama, saling memahami potensi dan bersama-sama pula membuka jalan menuju kesuksesesan. Sekali lagi, hanya sebuah keberanian untuk bergerak bersamalah yang mampu meruntuhkan pemikiran bahwa angka adalah segalanya.

Trenggalek, 2 Juni 2022

Jumat, 20 Mei 2022

Guru Berperan, Sukses di Genggaman


Ki Hadjar Dewantara merupakan seorang tokoh pendidikan yang menjadi panutan di Indonesia. Banyak hal yang dapat dipelajari dari beliau. Ajaran beliaru di era zaman sebelum kemerdekaan masih sangat relevan untuk diemplementasikan di era sekarang. Terlebih dalam hal penguatan karakter khususnya peserta didik.

 

Dari sekian banyak yang telah dicontohkan oleh Ki Hadjar Dewantara ada satu kalimat beliau yang sangat terkenal dan menyimpan makna yang sangat mendalam. Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani.

 

Ing Ngarso Sung Tulodo mengandung makna menjadi seorang pemimpin harus mampu menjadi suri tauladan yang baik. Pemimpin harus mampu menjadi dan memberi contoh, bukan hanya mampu meminta melakukan sesuatu. Sebelum meminta orang lain untuk melakukan sesuatu, seorang pemimpin harus terlebih dahulu dapat melakukan sesuatu itu. Sehingga seorang pemimpin akan tahu dan memahami situasi dan kondisi saat orang lain melakukan apa yang dia inginkan.

 

Ing Madya Mangun Karsa mengandung makna di tengah kesibukannya, seorang pemimpin harus juga mampu membangkitkan dan menggugah semangat orang yang dipimpinnya. Pemimpin memiliki peran yang sangat penting untuk mewujudkan target besar yang menjadi tujuan bersama. Motivasi dan semangat dari orang-orang yang dipimpinnya menjadi kunci untuk mencapai tujuan. Di sinilah diperlukan peran seorang pemimpin hadir di tengah-tengah orang yang dipimpinnya.

 

Tut Wuri Handayani memiliki makna seorang pemimpin harus mampu memberikan dorongan dan semangat dari belakang.

 

Konsep ini masih sangat relevan diimplementasikan di era sekarang termasuk dalam dunia pendidikan. Mulai dari tingkatan struktural hingga guru yang langsung berada di lapangan. Karena guru juga merupakan seorang pemimpin dalam pembelajaran. Sebisa mungkin ajaran ini harus kita jalankan dalam kehidupan yang sesungguhnya.

 

Jika semua pemimpin memegang teguh dan menjalankannya, pasti kesuksesan akan berada di genggaman.


Minggu, 27 Februari 2022

SUDUT RINDU

Semburat gelap itu

Mulai menggumpal di sekeliling sudut rindu

Alunan nada suram

Terus menggelayut di tengah percikan malam

Sayatan di tengah guratan

Menganga lukisan jalanan

Kepercayaan yang dulu erat dalam genggaman

Tiba-tiba rapuh dan jatuh

 

Semburat gelap itu

Membawa rasa pilu

Dalam setiap jengkal yang menyatu

Di keabadian catatan kalbu

 

Semburat gelap itu

Ya semburat gelap itu

Menjadi saksi rasa yang seakan purna

Menjadi saksi rasa yang direnggut paksa

Menjadi saksi rasa yang tak lagi sempurna

 

Semburat gelap itu

Menjadi ladang yang termangu

Dalam himpitan rindu yang menyatu

 

27 Februari 2022


Sabtu, 07 Agustus 2021

Motivasi Kunci dalam Memimpin Organisasi

Motivasi adalah segala sesuatu tentang pemuasan keinginan dan kebutuhan seseorang. Dengan kata lain, ketika mereka merasa bahwa melakukan sesuatu itu bermanfaat karena kepuasan yang dapat ditimbulkannya, maka mereka akan termotivasi.

Saat kita berada dalam sebuah organisasi atau tim, dan bahkan kita memimpin organisasi atau tim itu, maka kita perlu memahami faktor yang menjadi kunci untuk memotivasi anggota tim atau organisasi kita. faktor itu diantaranya sebagai berikut.

Pertama, Semakin besar anggota organisasi atau tim kita memahami tugas mereka, alasan melakukannya dan nilai tugas tersebut, maka semakin besar mereka akan termotivasi.

Kita perlu menunjukkan kepada mereka bagaimana bagian mereka sesuai dengan organisasi secara menyeluruh. Bukan hanya mengatakan kepada mereka sekali ketika mereka bergabung dengan tim kita, akan tetapi perlu terus kita perkuat motivasi mereka. Sangat perlu kita sering berdiskusi walaupun tidak bersifat formal untuk membicarakan tentang peluang ke depan.

Kedua, Selalu menentukan target yang dapat dipahami dan dapat dicapai oleh setiap orang.

Kita perlu memastikan bahwa mereka menyetujui ketimbang mereka terdikte. Seperti halnya saat kita menghadapi ujian sekolah. Kita mendapatkan target batas minimal nilai 65, tetapi dengan kerja keras kita mampu mendapatkan nilai 98. Secara otomatis kita akan termotivasi dengan capaian nilai yang kita dapatkan.

Tim kita perlu mengetahui apakah mereka telah mengerjakan tugas dengan baik atau tidak. Sehingga setiap orang memerlukan target kinerja sendiri yang dapat diukur seperti halnya target tim. Semakit spesifik target kita, maka akan semakin baik hasilnya. Ketidakjelasan dapat menjadi demotivator yang sangat kuat.

Ketiga, Libatkanlah anggota tim kita.

Kita perlu mengatakan kepada mereka semua hal yang kita tahu tentang apa yang terjadi dalam organisasi. Sangat perlu kita meminta saran dari mereka serta bantuan untuk menyelesaikan masalah yang ada.

Sebagai pemimpin, kita juga harus mampu menjadi pendengar yang baik. Orang akan berhenti memberikan saran jika kita tak pernah menerima saran tersebut. Tentu saja beberapa saran mereka tidak menjanjikan, tetapi kita dapat membicarakan kesulitannya dengan orang yang memberikan saran dan mungkin akan sampai pada sebuah ide yang lebih baik. Jika kita tidak dapat mewujudkan ide awal tadi, paling tidak orang tersebut akan memahami apa sebabnya dan akan merasa bahwa kita sudah mendengarkan mereka dan ide-ide mereka selanjutnya akan lebih dapat dipraktikkan.

Ini adalah sebagian besar hal yang memotivasi mereka untuk merasa terlibat dan dalam rangka mendorong hal ini, maka kita perlu memastikan bahwa kita selalu mengakui semua keterlibatan mereka dalam kesuksesan apapun.


Sabtu, 31 Juli 2021

Pelajar Siap Menjawab Tantangan

 


Berbicara pelajar sama dengan berbicara untuk sekian tahun keberadaan bangsa dan negara. Pelajar dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan dan menjawab tantangan masa depan. Kehadiran pelajar diharapkan mampu menghadirkan sesuatu yang lebih baik di masa yang akan datang.

Pelajar dengan segala kemampuan, kelebihan dan kelemahannya merupakan generasi emas calon pemegang tongkat estafet kepemimpinan bangsa. Terdapat sebuah harapan yang besar dari masyarakat terhadap keberadaan pelajar untuk dapat mengemban amanah serta pada akhirnya bermuara pada tuntutan agar mereka mampu memberikan kesejahteraan masyarakat yang lebih baik daripada yang telah diberikan oleh para pendahulunya.

Dikatakan sebagai generasi emas, karena pelajar merupakan sumber daya manusia yang sekaligus menjadi penerus dan tulang punggung bangsa. Akan tetapi generasi emas ini hanya tinggal generasi yang kurang bermakna jika tidak ada keinginan dan kesempatan. Oleh karena itu, keinginan dan kesempatan berbanding lurus menjadi kunci agar generasi emas ini menjadi semakin berharga. Dalam hal ini keinginan bersumber dari dalam diri mereka sendiri, sedangkan kesempatan dapat berupa akses dan kepercayaan dari orang yang ada di sekitarnya.

Dengan demikian, pelajar tidak lagi dianggap sebagai pribadi yang hanya penuh kelemahan, akan tetapi harus dianggap sebagai pribadi yang memiliki kemampuan. Tanpa adanya keinginan dan kesempatan, pelajar bahkan selamanya akan menjadi orang yang gamang. Jikalau sudah demikian, maka pada dasarnya bangsa ini sama dengan telah menyiapkan diri pada kematiannya, karena ia tidak mampu menyiapkan generasi sesudahnya dengan lebih baik.

Oleh karena itu, pelajar harus didorong untuk memiliki keinginan dan mendapatkan kesempatan dalam berbagai aktivitas kehidupan berbangsa dan bernegara. Jika hal ini benar-benar nyata, maka sesungguhnya bangsa ini telah melakukan Investasi nasional yang tidak akan pernah rugi sepanjang zaman. Bahkan dapat dikatakan, bahwa karya monumental dari bangsa ini adalah kemampuannya menyiapkan generasi emas agar mampu memberikan yang terbaik kepada bangsa dan negaranya dengan lebih baik dari apa yang dilakukan oleh generasi sebelumnya.


Sabtu, 24 Juli 2021

Peran Kunci Membangun Tim yang Tangguh

 

Membangun tim yang tangguh sama dengan mengorganisir anggota yang tepat untuk menuju visi yang diinginkan. Jika kita dapat mengenali potensi yang dimiliki oleh anggota dan mampu memasangkannya, maka kita akan dapat membentuk fondasi untuk sebuah tim yang sanggup mencapai hasil lebih besar dari yang diharapkan.

Jika setiap anggota mempunyai peran yang sesuai dengan keahlian mereka, maka mereka akan merasa telah memberikan kontribusi yang lebih besar. Mereka akan menerima lebih banyak pengakuan dan penghargaan. Terdapat lebih sedikit konfrontasi dan perselisihan dalam tim karena setiap orang akan menghargai kontribusinya yang unik dan tidak bersaing untuk peran tersebut dengan anggota lainnya. Dengan kata lain, ketika kita telah membentuk tim yang tangguh, maka secara otomatis akan mempermudah pekerjaan dan tanggung jawab kita.

Terdapat empat peran kunci dalam sebuah tim yang tangguh.

Perencana (Planner)

Anggota tim ini sangat pandai dan pemikir yang orisinil. Keahlian mereka yang utama adalah menghasilkan ide-ide baru dan menyelesaikan masalah yang sulit. Mereka menebarkan benih-benih yang akan dipelihara oleh seluruh anggota tim sampai mereka menghasilkan buah.

Perencana merupakan orang yang idealis. Biasanya suka bekerja secara independen , individualistik dan sering kali tidak konvensional atau melakukan sesuai di luar kebiasaan. Mereka peka terhadap kritik dan pujian, tetapi sering tidak tanggap terhadap ide-ide orang lain dan tidak dapat berkomunikasi dengan mudah melalui cara pikiran orang lain dibandingkan dengan melalui cara berpikirnya sendiri. Mereka berharap orang lain menyesuaikan diri dengannya.

Koordinator (Coordinator)

Koordinator sangat disiplin dan terkontrol, serta mempunyai kecenderungan alami untuk berfokus pada objek. Dia menjadi kekuatan pemersatu yang hebat dalam tim dan biasanya dihormati oleh anggota tim yang lain.

Koordinator memiliki kepercayaan diri yang tinggi dan otoritas atau wewenang yang alami. Dia seorang delegator yang bagus, komunikator yang handal dan orang yang ahli dalam mendukung bakat individu serta memanfaatkan bakat itu untuk kepentingan seluruh tim.

Koordinator juga memiliki sifat yang bijaksana dan dewasa secara emosional. Dia tidak harus lebih pandai dari anggota lainnya, dan tidak juga harus lebih kreatif dibandingkan anggota tim lainnya. Kekuatan dia terletak pada kemampuannya untuk mengeluarkan keahlian dari orang lain dan mengarahkan mereka menuju tujuan tim secara keseluruhan.

Pekerja Tim (Tim Worker)

Pekerja tim adalah orang yang sportif, sensitif dan senang bergaul. Mereka memiliki keahlian atau keterampilan berorganisasi, akal sehat dan disiplin diri untuk mengubah ide dan keputusan menjadi pekerjaan yang dapat didefinisikan dan dikelola. Pekerja tim mengubah rencana umum menjadi rencana tindakan. Mereka adalah pekerja keras dan sistematis. Selain itu, mereka juga selalu gembira melakukan pekerjaan apapun yang harus dilakukan, tanpa memperhatikan apakah mereka secara pribadi menikmatinya atau tidak.

Pekerja tim suka menciptakan keteraturan dan tidak merasa nyaman dengan perubahan yang mendadak.

Evaluator

Anggota tim ini pandai, stabil dan tertutup. Mereka dapat menjadi orang yang berkepribadian kering dan tidak menarik. Bahkan mereka dapat bersikap dingin. Kekuatan mereka tidak terletak pada kemampuan untuk menghasilkan ide-ide baru, tetapi dalam analisis yang jelas dan tidak memihak atas ide-ide orang lain. Mereka menimbang semua pro dan kontra, pandai membuat penilaian dan jarang sekali membuat keputusan. Sering kali evaluator menghindarkan tim dari tindakan yang menyimpang.

Evaluator adalah pemikir yang obyektif dan menyediakan waktunya sendiri untuk mencapai kesimpulan. Mereka tidak punya kecenderungan untuk mengkritik hanya demi kepentingan mereka sendiri, tapi karena mereka benar-benar dapat melihat cacat dalam suatu rencana atau argumen.

Itulah empat peran kunci dalam sebuah tim. Jika kita mampu merakit dan memposisikan anggota kita ke dalam empat peran kuci itu, maka kita akan dapat menggerakkan kekuatan tim kita dengan mudah menuju keberhasilan yang dicita-citakan bersama.

Selamat mencoba!

Trenggalek, 25 Juli 2021


Jumat, 02 Juli 2021

Menjaga Tradisi di Tengah Pandemi

 


2021 menjadi tahun kedua pandemi COVID-19 menggegerkan negeri ini. Banyak tatanan yang berubah untuk menyesuaikan situasi dan kondisi. Tidak pernah terbayangkan bahwa pandemi akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu singkat mampu menyebar dengan cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa. Lebih jauh, pandemi juga mampu menggoyahkan nilai dan norma sosial budaya yang telah berkembang dan dianut oleh masyarakat selama ini.

Tahun ini dapat dikatakan menjadi tahun yang penuh tantangan. Hampir di seluruh bidang mengalami guncangan. Perubahan tatanan yang mendadak membuat sebagian orang terkaget. Bukan karena suka atau tidak suka, namun lebih pada permasalahan kesiapan dalam menghadapinya. Ada orang yang memang sudah siap melaksanakannya, tapi ada juga yang belum siap sama sekali dalam penerapannya.

Pemberlakuan sekolah secara daring, pengurangan kunjungan pada tempat-tempat tertentu, perubahan kebiasaan dengan menerapkan protokol kesehatan, bahkan pembatasan kegiatan sosial budaya yang menjadi adat dan kebiasaan yang sangat melekat dalam kehidupan.

Bangsa kita kaya akan adat dan budaya yang tidak dimiliki oleh Negara-negara di seluruh dunia. Bahkan hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi warga Negara asing untuk singgah di Negara kita sekedar melihat dan menyaksikan prosesi adat dan budaya itu.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa adat merupakan aturan (perbuatan dan sebagainya) yang lazim diturut atau dilakukan sejak dahulu kala. Adat merupakan wujud gagasan kebudayaan yang terdiri atas nilai-nilai budaya, norma, hukum, dan aturan yang satu dengan lainnya berkaitan menjadi suatu sistem. Dan sistem inilah yang kemudian diyakini oleh masyarakat untuk terus dijalankan.

Hampir seluruh wilayah di seantero nusantara memiliki adat dan budaya yang berbeda-beda. Bahkan di setiap desa pun sebagai satuan pemerintahan terkecil di Negara ini memiliki adat dan budaya sendiri-sendiri. Hal ini tidak ubahnya terjadi di desa Ngadirenggo kecamatan Pogalan Kabupaten Trenggalek Jawa Timur. Desa yang memiliki 5.000 lebih jumlah penduduk ini memiliki adat dan kebudayaan yang tidak dimiliki oleh desa lain.

Masyarakat desa ini memiliki adat dan budaya Nyadran. Banyak desa yang memiliki budaya Nyadran, namun adatnya yang berbeda. Di desa ini kegiatan Nyadran dilaksanakan setiap satu tahun sekali, tepatnya pada hari Jumat Wage di bulan Jawa selo. Bukan tanggal yang menjadi patokan, tapi hari dan pasaran Jawa. Setiap hari Jumat Wage bulan Jawa Selo secara turun-temurun warga masyarakat desa melaksanakan berbagai ritual untuk menuju kebaikan.

Kegiatan biasanya dimulai pada hari Kamis setelah sholat Subuh. Di seluruh masjid dilaksanakan kegiatan membaca Al Qur’an sampai Khatam secara bersamaan. Malam harinya setelah sholat Maghrib digelar doa bersama di seluruh masjid dan mushola desa. Setelah itu dilanjutkan dengan kegiatan doa bersama secara masal di Pendapa Balai Desa yang dipimpin oleh seluruh Kyai pemangku masjid dan mushola.

Kegiatan ini berfokus untuk mendoakan para pejuang Desa terutama tiga tokoh sentral yang dipercaya “mbabat” desa Ngadirenggo. Yaitu Syeh Dumbo, Syeh Bodo dan Syeh Cokrosuto. Syeh Dumbo dimakamkan di puncak gunung Kebo. Sedangkan Syeh Bodo dan syeh Cokrosuto dimakamkan di bagian bukit gunung yang berada di desa Ngadirenggo ini.

Malam Jumat Wage menjadi malam tirakatan bagi warga desa. Setelah dilaksanakan acara doa bersama secara masal di pendapa Balai Desa, berikutnya dilanjutkan acara tirakatan di area makam ketiga tokoh sentral desa ini. Bentuk kegiatannya tetap berupa doa bersama. Dan pagi harinya setelah sholat Subuh dilanjutkan dengan acara doa bersama kembali secara masal di puncak gunung Kebo, tepatnya di area makam Syeh Dumbo.

Kegiatan inilah yang biasanya ditunggu-tunggu oleh warga masyarakat secara umum. Bahkan dalam kegiatan ini tidak sedikit warga yang berasal dari luar desa juga dari luar Kabupaten. Untuk mengikuti acara ritual ini membutuhkah sebuah perjuangan yang dramatis. Di pagi hari sebelum sinar matahari tampak, kita harus berduyun-duyun bersama warga lain untuk naik ke puncak gunung melalui jalan setapak yang memang sudah disiapkan dan dibersihkan sebelumnya. Dalam perjalanan ini, warga naik dengan membawa “ubo rampe” berupa nasi gurih dan ayam lodho. Persembahan nasi gurih dan ayam lodho melambangkan sebuah harapan untuk mendapatkan petunjuk dari Rosulullah agar acara yang dilaksanakan diijabah oleh Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu, juga menjadi simbol perwujudan rasa syukur dan meminta keselamatan.

Nasi gurih dan lodho ini ditaruh di atas “encek”. Encek merupakan tempat makanan yang terbuat dari pelepah pohon pisang yang ditata dengan pecahan bambu. Encek memiliki makna menanti cahaya surga. Hal ini tersirat dari keberadaan pelepah pisang dan janur yang memiliki filosofi surga yang agung. Ada juga yang mengatakan encek merupakan sebuah harapan atau cita-cita yang besar.

Satu lagi yang tidak boleh dilupakan dalam ritual ini adalah apem dumbo. Makanan khas desa Ngadirenggo yang dibuat hanya saat kegiatan ritual. Kita tidak akan menemukan makanan ini di hari-hari biasa, termasuk di desa Ngadirenggo sekalipun. Apem dumbo merupakan makanan yang bahan utamanya tepung beras yang kemudian dicampur cairan berbahan utama gula merah. Namun, di balik bahannya yang begitu sederhana, makanan ini memiliki makna yang sangat mendalam. Apem merupakan simbol dari pengampunan atau memohon ampun atas segala kesalahan. Selain itu, apem juga menjadi simbol kesederhanaan dan kebersamaan. Makanan ini juga dihidangkan di atas “encek” sama seperti makanan lainnya.

Perjalanan menuju puncak sangat menarik. Selain memang warga tidak dapat berjalan dengan cepat karena harus bergantian dengan warga yang membawa makanan sebagai sedekah dari rizki yang didapat selama satu tahun. Nuansa estetis muncul kala warga harus berjalan di kegelapan dengan hanya ditemani sinar api dari “oncor” dan semburat sinar rembulan. Sehingga, tidak sedikit para pengunjung yang berswafoto untuk mengabadikan momen sekali dalam satu tahun ini.

Setelah seluruh persiapan di puncak selesai, kegiatan ritualpun dimulai. Tabur bunga menjadi kegiatan awal. Kemudian dilanjutkan dengan doa bersama yang dipimpin oleh seorang pemuka agama yang ditunjuk. Proses ritual sangat khusyuk. Seluruh pengunjungpun wajib untuk mengikutinya. Yang menarik lagi, konon katanya area puncak gunung akan selalu mampu menampung berapapun jumlah pengunjung yang mengikuti ritual satu tahun sekali ini.

Setelah proses ritual selesai, berikutnya dilanjutkan dengan pembagian sedekah makanan kepada seluruh pengunjung. Tentunya pembagian ini di tempat yang sudah disiapkan. Pengunjung bebas mengambil sendiri tanpa harus membayar. Karena memang sengaja disediakan oleh warga sebagai sedekah dari seluruh rizki yang didapat selama satu tahun.

Kegiatan dilanjutkan di lingkungannya masing-masing. Mulai dari berdoa bersama warga lingkungan di tempat yang telah ditetapkan dan yang dianggap memiliki nilai kesucian, membersihkan lingkungan masing-masing, membuka tempat pengumpulan sedekah berupa apem dumbo dengan tujuan disediakan khusus kepada sanak saudara atau teman dari luar desa yang berkunjung.

Kegiatan tidak berhenti di situ saja. Jumat malam diadakan pagelaran wayang kulit sekaligus ruwatan semalam suntuk. Hari Sabtu giliran Karang Taruna Desa mengadakan kegiatan pertunjukan seni di tiap wilayah perdukuhannya dan hari Minggu dilaksanakan Kirab atau Pawai Budaya. Menariknya, dalam setiap tahapan kegiatan ini, makanan utama yang disediakan oleh warga adalah apem dumbo. Sehingga apem dumbo menjadi icon makanan di desa Ngadirenggo saat kegiatan tahunan ini dilaksanakan. Termasuk di tahun ini. Walaupun pelaksanaannya sedikit berbeda akibat munculnya pandemi covid-19 di negeri ini. Sehingga ada beberapa kegiatan yang tidak dijalankan. Tapi untuk kegiatan ritual inti tetap berjalan.

Setidaknya ada beberapa poin positif yang dapat kita petik dari berjalannya ritual adat dan budaya tahunan ini. (1) Masyarakat selalu diingatkan dan tidak melupakan sejarah panjang perjuangan para pendahulunya. (2) Lebih mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena selama prosesi selalu mengutamakan doa bersama. (3) Mempererat rasa kekeluargaan antar warga. (4) Menghidupkan kembali semangat gotong-royong di lingkungan. (5) Membiasakan diri untuk hidup bersih secara lahir maupun batin. (6) Bersama-sama dengan seluruh warga dan Pemerintah Desa untuk melahirkan semangat “mbangun desa”. (7) Melestarikan adat dan budaya. (8) Membiasakan untuk tidak melupakan sedekah dan berbagi kepada sesama.

Banyak hal yang dapat dipetik dari perjalanan adat dan budaya yang ada di Negara kita. tidak hanya sekedar hiburan belaka, namun memiliki nilai yang sangat mendalam. Nilai yang mampu mengubah hidup kita menjadi lebih baik dan lebih bermakna.

Trenggalek, 2 Juli 2021