Kamis, 31 Desember 2020

OPTIMISME 2021

 


Malam ini terlihat berbeda. Banyak orang yang melakukan aktifitas tidak seperti biasanya. Tahun 2020 sudah sampai di ujungnya dan siap menyambut tahun baru 2021 yang nyata. Banyak orang yang ingin mencoba membuat catatan sejarah pribadinya. Karena menjadi sebuah kebanggaan ketika dapat bercerita kepada orang lain di keesokan harinya.

Tidak hanya itu, dengan aktifitas peringatan tahun baru setidaknya seseorang memiliki modal untuk menumbuhkan kreatifitas dalam membanjiri media sosial yang hari ini memang sedang viral.

Namun, peringatan tahun baru kali ini sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Kita tidak dapat melihat ramainya jalanan desa maupun kota, ramainya perempatan tempat berkumpulnya orang yang sedang berlalu-lalang, tak dapat melihat pedagang kaki lima berjualan hingga larut malam, apalagi gelaran spesial tahun baru dengan suguhan band ternama dan ledakan kembang api super yang biasa dipusatkan di aloon-aloon kota juga tak dapat kita nikmati bersama.

Banyak orang yang memilih peringatan tahun baru kali ini dengan berkumpul bersama keluarga di rumah sambil menikmati hidangan yang telah disiapkan, sekedar menggelar tikar di halaman bersama tetangga dekat ditambah nikmatnya suguhan ikan bakar, bermunajad bersama untuk keselamatan lingkungan dan warga, duduk di kursi depan rumah dengan ditemani secangkir kopi sambil ngobrol dan bercengkerama serta acara sederhana lainnya.

Hal itu bukan muncul tanpa sebab. Hari ini kita dan warga dunia sedang berada dalam masa pandemi yang berkepanjangan. Banyak aturan protokol kesehatan yang harus dilakukan. Penutupan tempat-tempat wisata secara menyeluruh, Pembatasan secara fisik dan penerapan aturan jam malampun dijalankan. Kesemuanya itu dilakukan demi terciptanya keselamatan kita bersama.

Namun demikian, banyak hal menarik yang terlihat dalam peringatan tahun baru kali ini. Mungkin hal itu tak terlihat pada peringatan-peringatan tahun baru sebelumnya, karena kebanyakan orang telah disibukkan dengan acara skala besar, menikmati suasana tempat wisata dan keinginan untuk sekedar meramaikan jalanan kota.

Di malam tahun baru ini, kita dapat melihat bagaimana satu keluarga besar dapat bercengkerama santai, tetangga dekat dapat saling bertukar pendapat, dapat saling mengungkapkan kebahagiaan, bahkan curhat tentang kegelisahan. Mulai dari masalah pertanian, ekonomi, politik, sosial, budaya, bahkan pendidikan. Secara tidak langsung, dengan acara kecilpun kita dapat melakukan proses refleksi akhir tahun. Kita mencoba untuk mengevaluasi kejadian satu tahun yang lalu, seperti yang terlihat malam tadi, ada yang membicarakan tentang sulitnya orang tua memberikan pengawasan pendidikan anaknya, panen jagung yang biasanya dapat duabelas karung tinggal dua karung akibat serangan hama tikus, sulitnya membuat bibit padi, intoleransi agama, permasalahan pandemi, hingga berbicara masalah politik lokal dan nasional di negeri ini.

Peringatan dan refleksi akhir tahun ternyata tidak harus dilakukan dalam skala besar. Kebersamaan dalam skala kecil dengan orang-orang terdekatpun juga dapat menjadi jawaban. Ungkapan kebahagiaan dan kegelisahan dapat menambah rekatnya ikatan kekeluargaan. Hal itulah yang kita butuhkan dalam perjuangan melawan pandemi yang berkepanjangan ini. Mari kita melakukan evaluasi diri untuk meraih kebahagiaan di tahun ini. Bukan saatnya lagi kita saling menebar kebencian yang membabibuta, tapi mari kita bersama-sama menebar optimisme yang nyata. Selamat tahun baru 2021.


Sabtu, 19 Desember 2020

Karya Sastra, Pengalaman dan Ekspresi Jiwa

 


Berbicara karya sastra memang menarik dan seolah tidak ada batasnya. Banyak orang menjadikan karya sastra sebagai hal yang sangat nikmat untuk menghiasi lekuk kehidupannya. Ada pula yang menjadikan karya sastra sebagai tempat pelampiasan terhadap apa yang dirasakan setiap harinya.

 

Karya sastra merupakan salah satu karya seni yang menggambarkan kenyataan yang ada di masyarakat. Karya seni tersebut terbentuk melalui sentuhan imajinasi dan kreatifitas pengarangnya, sehingga menjadi suatu bentuk karya seni yang estetik namun tetap syarat dengan makna. Sesungguhnya diakui atau tidak, memahami hakikat sastra itu secara singkat dan jelas tidaklah mudah, namun ini harus dilakukan. Karena dengan kita mampu memahaminya maka secara otomatis kita juga akan mampu merasakannya.

 

Abrams (dalam Sriwahyuningtyas dan Wijaya Heru Santosa, 2011: 1) mengatakan ada empat pendekatan terhadap karya sastra, yaitu pendekatan mimetik, pendekatan pragmatik, pendekatan ekspresif, dan pendekatan objektif. Teori struktural termasuk pendekatan objektif, yaitu pendekatan yang menganggap karya sastra dapat berdiri sendiri, menganggap bahwa karya sastra bersifat otonom, terlepas dari alam sekitarnya, baik pembaca maupun pengarangnya sendiri. Oleh karena itu, untuk dapat memahami sebuah karya sastra, harus dianalisis strukturnya.

 

Karya sastra juga merupakan sebuah struktur yang kompleks. Pengertian struktur menunjuk pada susunan atau tata urutan unsur yang saling berhubungan antara bagian yang satu dengan bagian yang lain. Unsur ini adalah ide dan emosi yang dituangkan, sedangkan unsur bentuk adalah semua elemen linguis yang dipakai untuk menuangkan isi ke dalam unsur fakta cerita, sarana cerita, dan tema sastra, seperti yang diungkapkan oleh Wellek dan Werren (dalam Sriwahyuningtyas dan Wijaya Heru Santosa, 2011: 2).

 

Faruk (2009: 39) mengemukakan bahwa pengertian sastra dapat ditinjau dari berbagai sisi, yaitu: (1) sastra sebagai tulisan, kemungkinan sastra sebagai tulisan tidak dapat dielakkan, karena secara etimologis sastra itu sendiri sebagai nama yaitu tulisan. (2) sastra sebagai bahasa, bahasa tampaknya merupakan unsur penting dan dasar dari pengertian sastra. Namun, bahasa cenderung tidak dianggap sepenuhnya identik dengan sastra. Sastra dipahami sebagai bahasa tertentu yang khusus, berbeda dari bahasa pada umumnya. (3) sastra sebagai karya fiktif-imajinatif, acuan karya sastra bukanlah dunia nyata, melainkan dunia fiksi, imajinasi. Pernyataan-pernyataan yang ada di dalam berbagai genre sastra bukanlah preposisi-preposisi logis. Karakter di dalam karya-karya sastra bukan tokoh-tokoh sejarah dalam kehidupan nyata. Tokoh-tokoh dalam karya sastra itu merupakan hasil ciptaan atau rekaan pengarang yang muncul begitu sasja, tidak mempunyai sejarah, tidak mempunyai masa lalu. Ruang dan waktu dalam karya sastrapun bukan ruang dan waktu kehidupan nyata.

 

Selain itu, Faruk (2009: 44) juga mengungkapkan definisi karya sastra yang ke (4) yaitu bahwa karya sastra sebagai ekspresi jiwa, definisi ini dianut oleh aliran romantik dan bahkan definisi itu masih dianut hingga sekarang. Subagyo Sastrowardoyo (dalam Faruk, 2009: 44) mempercayai bahwa karya-karya puisinya merupakan usaha untuk memotret apa yang berlangsung dengan cepat dalam jiwanya, dalam bawah sadarnya.

 

Sastra adalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang objeknya adalah manusia dan kehidupannya dengan menggunakan bahasa sebagai mediumnya (Atar Semi, 1988: 8). Sebagai seni kreatif yang menggunakan manusia dan segala macam segi kehidupannya maka ia tidak saja merupakan suatu media untuk menyampaikan ide, teori, atau sistem berpikir, tetapi juga merupakan media untuk menampung ide, teori, atau sistem berpikir manusia. Sebagai karya kratif, sastra harus mampu melahirkan suatu kreasi yang indah dan berusaha menyalurkan kebutuhan keindahan manusia. Di samping itu, sastra harus pula mampu menjadi wadah penyampaian ide-ide  yang dipikirkan dan dirasakan oleh sastrawan tentang kehidupan umat manusia. Perlu ditegaskan kembali bahwa objek seni sastra adalah pengalaman hidup manusia terutama yang menyangkut sosial budaya, kesenian dan sistem berpikir.

 

Pengalaman hidup menjadi modal dasar untuk melahirkan karya yang indah dan dapat dinikmati oleh banyak orang. Apalagi jika dipadu dengan ide dan pemikiran yang brillian, dapat dipastikan akan menghasilkan karya yang tidak hanya untuk dibaca, tapi juga untuk dirasakan.


Sabtu, 22 Agustus 2020

Kibarkan Sang Saka sebagai Wujud Cinta Indonesia

Detik-detik bulan bersejarah Proklamasi Kemerdekaan semakin menjauh. Peristiwa di mana bangsa Indonesia mengalami pergolakan untuk mencapai titik pembebasan dari belenggu penjajah. Tetes demi tetes darah terus mengucur mewarnai perjalanan panjang perjuangan para pahlawan, hingga pada akhirnya tepat tanggal 17 di bulan ini Agustus tahun 1945 sang Proklamator Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan Negara kita tercinta.

Kini, sebagai generasi penerus bangsa, kita hanya tinggal melanjutkan perjuangannya dengan lebih mudah. Menyalanya semangat nasionalisme dan patriotisme menjadi modal utama. tidak perlu kita berkalung senjata, tidak perlu juga kita harus mempertaruhkan nyawa untuk mengibarkan Sang Saka. Seperti apa yang telah dilakukan oleh para pejuang pendahulu kita.

Namun, hal yang mudah ini ternyata masih juga belum disadari oleh sebagian orang. memang tidak semua. Banyak orang yang sudah sadar akan tugas melanjutkan perjuangan. Membumikan semangat nasionalisme dan patriotisme pada seluruh generasi bangsa. Mulai dari generasi muda sampai tua.

Mengibarkan bendera Merah Putih di tanggal dan bulan bersejarah menjadi contoh kecil. Sudah banyak orang yang menjalankan apa yang diperintahkan oleh pemegang kebijakan. Namun, ada juga yang acuh terhadapnya dengan berbagai alasan. Mengibarkan bendera Merah Putih di depan rumah memang terlihat gampang. Tapi kadang juga ada yang merasa berat dan kesulitan.

Ini menjadi contoh kecil. Mengibarkan bendera Merah Putih merupakan bentuk rasa cinta tanah air. Bentuk rasa syukur kita atas kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan. Jika kita sedikit menengok ke belakang, bagaimana perjuangan yang berdarah-darah para pendahulu kita, sehingga berkat perjuangan mereka hari ini kita dapat menghirup udara segar tanpa ada tekanan.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Kalimat itulah yang menjadi salah satu penyemangat dan dasar kita untuk tetap mengingat perjuangan dan pengorbanan para pendahulu, sehingga kita terpantik untuk melanjutkan perjuangannya di masa sekarang.

Minggu, 09 Agustus 2020

Nyalakan Kebiasaan (membaca) di Tengah Ketidakbiasaan

Memulai untuk terbiasa memang membutuhkan perjuangan, terlebih membaca. Bagi orang-orang yang memang belum terbiasa, membaca terasa sangat membosankan. Banyak anggapan yang mengatakan membaca adalah kebiasaan yang paling mudah tapi kurang berguna dan hanya membuang waktu saja. Karena hanya duduk, diam, pegang buku dan membacanya, seolah tidak ada indikasi pekerjaan berat dan menghasilkan sama sekali.

Membaca memang tidak membutuhkan fisik yang terlalu berat. Tapi, membaca membutuhkan kekuatan otak untuk melakukannya. Saat kita membaca, otak kita secara otomatis akan bergerak dan terasah, sehingga tanpa kita sadari akan menjadi tajam. Ibarat pisau, jika sering diasah dengan baik dan teratur, maka akan selalu tajam dan siap untuk digunakan. Otak yang tajam inilah yang sangat dibutuhkan dalam menentukan arah perjalanan hidup kita ke depan.

Memulai untuk membiasakan membaca memang membutuhkan niat dan kemauan. Akan kurang baik hasilnya jika kebiasaan membaca berawal dari paksaan. Namun, kadang untuk terbiasa berbuat baik juga butuh paksaan terlebih dahulu. Bukan paksaan yang kelamaan, tapi paksaan untuk sebatas menumbuhkan niat dan kemauan.

Kita coba mengingat kembali sebuah kalimat menarik yang menjadi judul lagu dari salah satu group band terkenal, “Sahabat Jadi Cinta”. Kalimat ini ternyata juga sangat relevan untuk orang-orang yang belum terbiasa membaca tapi ingin menumbuhkan niat dan keinginan membaca.

Salah satu objek membaca adalah buku. Ketika kita menginginkan untuk selalu “hidup” bersama buku, maka harus ada rasa cinta terlebih dahulu di antara keduanya. Menumbuhkan rasa cinta dari hati yang paling dalam itu tidak mudah. Membutuhkan sebuah pendekatan dan strategi yang tepat, salah satunya bersahabat terlebih dahulu. Sehingga sahabat dan cinta ini menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan dalam konteks membiasakan (membaca) di tengah ketidakbiasaan.

Persahabatan akan terjalin manakala kita sering bertemu dan berkomunikasi. Untuk mulai membiasakan membaca buku, maka kita harus bersahabat terlebih dahulu dengannya. Ada beberapa langkah yang dapat kita lakukan untuk memulai persahabatan itu, (1) Mencoba berkenalan terlebih dahulu dengan cara melihat dan merasakan buku tentang apa yang paling kita suka. (2) Mencari bukunya. (3) Mau membawa dan sering bersama buku yang kita suka. Tidak harus memaksakan diri untuk langsung membacanya, cukup dibawa saja dan kalau perlu jadikan menu wajib dalam tas yang akan kita bawa kemana-mana. (4) Baru jika kita berada pada satu titik di mana kita bingung harus berbuat apa, misalkan sedang menunggu seseorang, kehabisan paket data sehingga tidak bisa memainkan gadged dan lain sebagainya, ajaklah sahabat barumu untuk berkomunikasi dan bercengkerama dengan cara memegang, membuka dan membacanya sampai seseorang yang kamu tunggu datang atau sampai rasa bosan kamu hilang.

Jika hal itu dapat terjadi berulang kali, maka dengan sendirinya buku itu akan menjadi sahabat setia yang siap menemani dimanapun kita berada. Lebih jauh lagi, rasa cintapun juga akan tumbuh dengan sendirinya pula seiring perjalanan persahabatan yang kita bina.

Selasa, 28 Juli 2020

Kebiasaan dan Analisis yang Tajam



Proses menempa diri memang tidak ada batasan. Sering kali kita melihat banyak orang yang berkumpul di tempat-tempat tertentu hanya untuk sekedar bertemu, ngobrol dan berdiskusi. Tapi sebenarnya banyak hal yang kita dapatkan ketika kita bisa bertemu, berbicara dan saling bertukar pikiran. Dari situlah pisau analisis kita akan terasah. Terlepas ada juga yang sekedar berkumpul dan menghasilkan sesuatu yang sifatnya negatif.

Semua itu tergantung bagaimana orang menyikapi dan malakukannya. Ketika kita bisa memanfaatkan kesempatan bertemu orang lain untuk kepentingan positif, maka hasilnyapun juga akan positif.

Dalam setiap pembicaraan pasti ada imbal balik. Ada pertanyaan juga ada jawaban, ada pendapat juga ada fakta yang didapat, ada sanggahan juga ada kesepakatan dan seterusnya. Secara otomatis pisau analisis kita akan terasah dengan sendirinya.

Beberapa waktu yang lalu sempat bertemu dengan seorang teman, kebetulan dia memiliki hobi berdiskusi. Dia memiliki daya analisis yang tinggi. Setiap permasalahan dianalisis secara mendalam. Sempat saya bertanya kepada orang ini. Dari mana dia mendapatkan kemampuan analisis yang kuat dan mendalam. Sangat simpel dia menjawabnya. Kebiasaan yang membuat otak memiliki daya analisis yang kuat.

Memang ada benarnya ketika kita mencoba sedikit ikut menganalisis apa yang dia katakan. Kita dapat menganalogikan, jika kita setiap hari makan nasi, maka lidah ini akan terbiasa untuk menikmati nasi, sehingga ketika sehari tidak makan nasi, rasanya sama dengan kita belum makan seharian, padahal sudah banyak makanan lain yang sudah kita telan. Contoh lain, jika kita terbiasa tidak makan nasi, tapi kita ganti sayuran, maka jika seharian tidak makan sayuran rasanya kita belum makan walaupun sudah banyak nasi yang kita telan.

Hal itu sama dengan yang dilakukan oleh teman tadi. Karena sudah terbiasa berdiskusi, terbiasa untuk saling bertukar pikiran, menganalisis setiap kejadian, maka jika sehari tidak ada bahan yang dapat dianalisis, hidupnya akan terasa kurang. Dengan begitu, secara otomatis pisau analisisnya akan menjadi tajam.

Namun ada satu hal yang penting lagi untuk mendampingi kemampuan analisis, yaitu membaca. Data atau buku menjadi salah satu garis untuk memberikan jalan lurus analisis kita. Memiliki kemampuan analisis yang kuat tapi tidak dibarengi dengan data yang lengkap, sama dengan orang yang berdiri di tengah hamparan lapangan yang luas. Dia dapat bergerak sesuka hati, menari, tertawa, berekspresi tapi tidak memiliki target dan jalan menuju tujuan. Sehingga pada akhirnya hasil analisisnya hanya terbang melayang di atas awan.

Ketika kita dapat menyandingkan kebiasaan positif membaca dan berdiskusi, terlebih bagi pelajar, mahasiswa, pemuda dan generasi penerus bangsa pada umumnya, maka kita akan memiliki kemampuan yang lebih dan terarah sebagai dasar pijakan menentukan jalan menuju kesuksesan di masa depan.

Sabtu, 25 Juli 2020

Menyalakan Kembali Semangat Belajar Kita



Tahun 2020 menjadi tahun yang penuh tantangan bagi bangsa Indonesia. Hampir di seluruh bidang mengalami guncangan, termasuk dunia pendidikan. Perubahan cara belajar yang baru membuat sebagian orang terkaget. Bukan karena suka atau tidak suka, namun lebih pada permasalahan kesiapan dalam menghadapinya. Ada orang yang memang sudah siap melaksanakannya, tapi ada juga yang belum siap sama sekali dalam menghadapinya.

Perubahan cara belajar dari tatap muka menjadi tatap maya memang menjadi gempar. Bahkan di setiap sudut warung kopi, lingkungan, tempat bermain anak dan lain sebagainya hal ini selalu menjadi topik pembicaraan utama.

Kadang kita mendengar ada anak yang mengeluh dengan cara belajar ini. Mereka beranggapan hanya tugas dan tugas yang dihadapi. Kadang ada Bapak dan Ibu guru yang masih belum siap mengajar dengan sistem yang baru. Bahkan sering kita mendengar ada orang tua yang merasa kesulitan dalam mengendalikan dan mendampingi anaknya saat belajar.

Namun, jika semua hanya meluapkan energi negatif belaka, maka kita tidak akan mendapatkan apa-apa. Sebisa mungkin kita harus mencoba mencari solusi untuk tetap bertahan akibat pandemi yang penuh dengan ketidakpastian ini. Jika kita menyerah, maka pendidikan anak bangsa yang menjadi pertaruhan. Generasi pemegang tongkat estafet kepemimpinan bangsa ini hanya akan menjadi sebuah pertanyaan.

Tugas kita adalah “menyuntikkan” kembali semangat kepada semua yang bersentuhan dengan dunia pendidikan. Mulai dari pemegang kebijakan, pendidik, orang tua, peserta didik dan lain sebagainya. Terlebih kepada peserta didik. Karena peserta didik menjadi titik fokus dalam dunia pendidikan.

Butuh orang-orang yang mampu memberikan motovasi dan pendampingan kepada mereka, agar mereka tetap memiliki semangat untuk belajar. Karena ketika semangat mereka luntur, maka akan mudah sekali untuk terjerumus dalam kebiasaan yang kurang mendidik.

Banyak hal yang dapat kita lakukan untuk menguatkan dan menyuburkan semangat belajar kepada siswa. Salah satunya adalah dengan menggerakkan organisasi kepemudaan, Karang Taruna misalnya. Organisasi ini berisi pelajar, mahasiswa dan pemuda desa. Karang Taruna dapat mengambil peran untuk ikut serta dalam upaya menguatkan dan menumbuhkembangkan semangat belajar kepada siswa.

Kegiatan yang dapat dilakukan misalnya mengadakan bakti sosial. Tidak perlu bakti sosial dengan skala besar, namun cukup bakti sosial dengan membagikan alat belajar. Banyak manfaat yang dapat diambil. Bagi anggota Karang Taruna akan dapat menghidupkan kembali rasa sosialnya karena belajar berbagi, bagi yang masih menjadi pelajar dan mahasiswa juga secara otomatis semangat untuk berpikir dalam hal pendidikan akan berkobar lagi. Malah bagi sasaran bakti sosial, hal ini dapat menyalakan semangat mereka kembali untuk mau belajar walaupun dengan cara yang berbeda.

Hal ini terlihat kecil dan sepele. Namun efek positif pada diri yang bersentuhan langsung dengan kegiatan ini sangat besar. Jika kita akan mendapatkan hasil yang besar, maka kita harus mau memulainya dengan hal yang kecil. Dengan begitu, akan timbul sebuah kebanggaan dari hasil perjuangan yang panjang.

Jumat, 17 Juli 2020

Nilai Kemanusiaan di Balik Ritual Adat dan Apem Dumbo



Bangsa kita memang kaya akan adat dan budaya yang tidak dimiliki oleh Negara-negara di seluruh dunia. Bahkan hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi warga Negara asing untuk singgah di Negara kita sekedar melihat dan menyaksikan prosesi adat dan budaya itu.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa adat merupakan aturan (perbuatan dan sebagainya) yang lazim diturut atau dilakukan sejak dahulu kala. Adat merupakan wujud gagasan kebudayaan yang terdiri atas nilai-nilai budaya, norma, hukum, dan aturan yang satu dengan lainnya berkaitan menjadi suatu sistem. Dan sistem inilah yang kemudian diyakini oleh masyarakat untuk terus dijalankan.

Hampir seluruh wilayah di seantero nusantara memiliki adat dan budaya yang berbeda-beda. Bahkan di setiap desa pun sebagai satuan pemerintahan terkecil di Negara ini memiliki adat dan budaya sendiri-sendiri. Hal ini tidak ubahnya terjadi di desa Ngadirenggo kecamatan Pogalan Kabupaten Trenggalek Jawa Timur. Desa yang memiliki 5.000 lebih jumlah penduduk ini memiliki adat dan kebudayaan yang tidak dimiliki oleh desa lain.

Masyarakat desa ini memiliki adat dan budaya Nyadran. Banyak desa yang memiliki budaya Nyadran, namun adatnya yang berbeda. Di desa ini kegiatan Nyadran dilaksanakan setiap satu tahun sekali, tepatnya pada hari Jumat Wage di bulan Jawa selo. Bukan tanggal yang menjadi patokan, tapi hari dan pasaran Jawa. Setiap hari Jumat Wage bulan Jawa Selo secara turun-temurun warga masyarakat desa melaksanakan berbagai ritual untuk menuju kebaikan.

Kegiatan biasanya dimulai pada hari Kamis setelah sholat Subuh. Di seluruh masjid dilaksanakan kegiatan membaca Al Qur’an sampai Khatam secara bersamaan. Malam harinya setelah sholat Maghrib digelar doa bersama di seluruh masjid dan mushola desa. Setelah itu dilanjutkan dengan kegiatan doa bersama secara masal di Pendapa Balai Desa yang dipimpin oleh seluruh Kyai pemangku masjid dan mushola.

Kegiatan ini berfokus untuk mendoakan para pejuang Desa terutama tiga tokoh sentral yang dipercaya “mbabat” desa Ngadirenggo. Yaitu Syeh Dumbo, Syeh Bodo dan Syeh Cokrosuto. Syeh Dumbo dimakamkan di puncak gunung Kebo. Sedangkan Syeh Bodo dan syeh Cokrosuto dimakamkan di bagian bukit gunung yang berada di desa Ngadirenggo ini.

Malam Jumat Wage menjadi malam tirakatan bagi warga desa. Setelah dilaksanakan acara doa bersama secara masal di pendapa Balai Desa, berikutnya dilanjutkan acara tirakatan di area makam ketiga tokoh sentral desa ini. Bentuk kegiatannya tetap berupa doa bersama. Dan pagi harinya setelah sholat Subuh dilanjutkan dengan acara doa bersama kembali secara masal di puncak gunung Kebo, tepatnya di area makam Syeh Dumbo.

Kegiatan inilah yang biasanya ditunggu-tunggu oleh warga masyarakat secara umum. Bahkan dalam kegiatan ini tidak sedikit warga yang berasal dari luar desa juga dari luar Kabupaten. Untuk mengikuti acara ritual ini membutuhkah sebuah perjuangan yang dramatis. Di pagi hari sebelum sinar matahari tampak, kita harus berduyun-duyun bersama warga lain untuk naik ke puncak gunung melalui jalan setapak yang memang sudah disiapkan dan dibersihkan sebelumnya. Dalam perjalanan ini, warga naik dengan membawa “ubo rampe” berupa nasi gurih dan ayam lodho yang ditaruh di atas “encek”. Encek merupakan tempat makanan yang terbuat dari pelepah pohon pisang yang ditata dengan pecahan bambu.

Satu lagi yang tidak boleh dilupakan dalam ritual ini adalah apem dumbo. Makanan khas desa Ngadirenggo yang dibuat hanya saat kegiatan ritual. Kita tidak akan menemukan makanan ini di hari-hari biasa, termasuk di desa Ngadirenggo sekalipun. Apem dumbo merupakan makanan yang bahan utamanya tepung beras yang kemudian dicampur cairan berbahan utama gula merah. Saat ritual, makanan ini juga dihidangkan di atas “encek” sama seperti makanan lainnya.

Perjalanan menuju puncak sangat menarik. Selain memang warga tidak dapat berjalan dengan cepat karena harus bergantian dengan warga yang membawa makanan sebagai sedekah dari rizki yang didapat selama satu tahun. Nuansa estetis muncul kala warga harus berjalan di kegelapan dengan hanya ditemani sinar api dari “oncor” dan semburat sinar rembulan. Sehingga, tidak sedikit para pengunjung yang berswafoto untuk mengabadikan momen sekali dalam satu tahun ini.

Setelah seluruh persiapan di puncak selesai, kegiatan ritualpun dimulai. Tabur bunga menjadi kegiatan awal. Kemudian dilanjutkan dengan doa bersama yang dipimpin oleh seorang pemuka agama yang ditunjuk. Proses ritual sangat khusyuk. Seluruh pengunjungpun wajib untuk mengikutinya. yang menarik lagi, konon katanya area puncak gunung akan selalu mampu menampung berapapun jumlah pengunjung yang mengikuti ritual satu tahun sekali ini.

Setelah proses ritual selesai, berikutnya dilanjutkan dengan pembagian sedekah makanan kepada seluruh pengunjung. Tentunya pembagian ini di tempat yang sudah disiapkan. Pengunjung bebas mengambil sendiri tanpa harus membayar. Karena memang sengaja disediakan oleh warga sebagai sedekah dari seluruh rizki yang didapat selama satu tahun.

Kegiatan dilanjutkan di lingkungannya masing-masing. Mulai dari berdoa bersama warga lingkungan di tempat yang telah ditetapkan, membersihkan lingkungan masing-masing, membuka tempat pengumpulan sedekah berupa apem dumbo dengan tujuan disediakan khusus kepada sanak saudara atau teman dari luar desa yang berkunjung.

Kegiatan tidak berhenti di situ saja. Jumat malam diadakan pagelaran wayang kulit sekaligus ruwatan semalam suntuk. Hari Sabtu giliran Karang Taruna Desa mengadakan kegiatan pertunjukan seni di tiap wilayah perdukuhannya dan hari Minggu dilaksanakan Kirab atau Pawai Budaya. Menariknya, dalam setiap tahapan kegiatan ini, makanan utama yang disediakan oleh warga adalah apem dumbo. Sehingga apem dumbo menjadi icon makanan di desa Ngadirenggo saat kegiatan tahunan ini dilaksanakan. Termasuk di tahun ini. Walaupun pelaksanaannya sedikit berbeda akibat munculnya pandemi covid-19 di negeri ini. Sehingga ada beberapa kegiatan yang tidak dijalankan. Tapi untuk kegiatan ritual inti tetap berjalan.

Setidaknya ada beberapa poin positif yang dapat kita petik dari berjalannya ritual adat dan budaya tahunan ini. (1) Masyarakat selalu diingatkan dan tidak melupakan sejarah panjang perjuangan para pendahulunya. (2) Lebih mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena selama prosesi selalu mengutamakan doa bersama. (3) Mempererat rasa kekeluargaan antar warga. (4) Menghidupkan kembali semangat gotong-royong di lingkungan. (5) Membiasakan diri untuk hidup bersih secara lahir maupun batin. (6) Bersama-sama dengan seluruh warga dan Pemerintah Desa untuk melahirkan semangat “mbangun desa”. (7) Melestarikan adat dan budaya. (8) Membiasakan untuk tidak melupakan sedekah dan berbagi kepada sesama.

Banyak hal yang dapat dipetik dari perjalanan adat dan budaya yang ada di Negara kita. tidak hanya sekedar hiburan belaka, namun memiliki nilai yang sangat mendalam. Nilai yang mampu mengubah hidup kita menjadi lebih baik dan lebih bermakna.